NEGARA-negara di Eropa Barat saat ini tengah berjuang menghadapi gelombang panas ekstrem (heatwave). Portugal bahkan baru saja mencatatkan rekor suhu terpanas di bulan Mei sepanjang sejarah negara tersebut, setelah kota kecil Mora di wilayah pusat mencatat suhu mencapai 40,3 derajat Celsius pada Rabu (27/5) waktu setempat.
Angka tersebut memecahkan rekor tertinggi Portugal sebelumnya, yaitu 40 derajat Celsius yang tercatat pada Mei 2001. Badan meteorologi setempat memproyeksikan suhu di sebagian wilayah Portugal masih akan bertahan di atas 35 derajat Celsius pada hari Jumat sebelum perlahan-lahan mulai menurun.
Fenomena cuaca ekstrem ini disebabkan oleh heat dome (kubah panas), yaitu area tekanan tinggi yang “terjebak” di suatu wilayah dan mengurung udara panas di bawahnya. Selain Portugal, negara-negara lain seperti Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, dan Swiss juga menghadapi kondisi serupa.
Prancis Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Ujian Sekolah
Di Prancis, Perdana Menteri Sébastien Lecornu langsung memimpin rapat menteri pada Kamis sore untuk menyusun rencana kesiapan menghadapi panas ekstrem, termasuk langkah memitigasi kebakaran hutan dan memastikan pasokan air selama musim panas. Saat ini, sebanyak 17 wilayah di Prancis, termasuk Paris, berada dalam status siaga jingga (orange alert).
Meskipun suhu di dalam ruangan sangat menyengat hingga memaksa sebuah sekolah dasar di Souston tutup karena suhu ruangan mencapai 53 derajat Celsius, ujian kelulusan sekolah menengah atas (Baccalaureate) dipastikan tetap berjalan.
“Ujian akan tetap berjalan hanya karena para siswa telah bersiap dan… ada juga jadwal yang menjadi acuan hasil ujian mereka,” ujar Menteri Pendidikan Prancis, Édouard Geffray, kepada BFMTV.
Keputusan tersebut menuai kritik dari serikat guru yang melaporkan bahwa para pengajar terpaksa membawa kipas angin sendiri dan mencungkil jendela sekolah agar udara bisa berputar. Untuk menekan polusi di tengah cuaca panas Paris, polisi membatasi operasional kendaraan dan menurunkan batas kecepatan, dibarengi dengan penyediaan tarif tunggal murah untuk seluruh jaringan transportasi umum.
Cuaca panas di Paris juga sempat menyita perhatian di turnamen tenis Prancis Terbuka. Petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, mendadak mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan lemas akibat kelelahan.
“Itu adalah situasi yang sulit,” komentar Sinner setelah pertandingan. Namun, ia menambahkan, “Sebenarnya ini bukan masalah panas, bukan masalah cuaca. Ini murni saya hari ini, tetapi hal ini memang bisa terjadi.”
Italia Rilis Siaga Merah
Sementara itu, otoritas Italia telah mengeluarkan siaga merah (red alert) untuk ibu kota Rome serta kota Florence, Bologna, Brescia, dan Turin. Ini menjadi siaga merah pertama tahun ini, yang membawa peringatan akan “kemungkinan dampak negatif pada kesehatan orang-orang yang sehat dan aktif.” Di Roma sendiri, suhu telah menyentuh 32 derajat Celsius pada hari Kamis.
Para ilmuwan menegaskan bahwa meski sulit mengaitkan satu peristiwa cuaca ekstrem secara langsung dengan perubahan iklim, pemanasan global terbukti membuat gelombang panas terjadi lebih sering dan lebih intens. Data dari layanan iklim Copernicus menunjukkan bahwa dalam 30 tahun terakhir, suhu di Eropa menghangat sebesar 0,56 derajat Celsius per dekade, yang memicu cuaca ekstrem menjadi jauh lebih parah. (BBC/Z-2)