FIFA kembali menghadapi situasi kontroversial pada Piala Dunia 2026 setelah para suporter tidak diberikan kesempatan untuk melihat penggunaan teknologi offside semi-otomatis dalam proses pemberian penalti bagi Swiss saat melawan Qatar.
Ketegangan bermula ketika pemain Swiss, Remo Freuler, mengejar bola sundulan di dalam kotak penalti dan berbenturan keras dengan penjaga gawang Qatar, Mahmud Abunada. Wasit Hector Martinez asal Honduras langsung menunjuk titik putih. Eksekusi penalti tersebut berhasil diselesaikan dengan baik oleh Breel Embolo pada menit ke-17.
Namun, tayangan ulang memperlihatkan adanya indikasi offside dalam proses sebelum pelanggaran terjadi. Mantan bek Manchester United yang kini menjadi komentator ITV, Gary Neville, melontarkan kritik tajam terhadap penggunaan VAR oleh FIFA. Ia menyamakan pendekatan badan pengatur sepak bola dunia tersebut dengan tindakan sebuah “diktator” karena tetap mempertahankan keputusan awal tanpa membagikan bukti definitif kepada penonton di stadion maupun pemirsa di rumah.
Neville mengungkapkan rasa frustrasinya atas apa yang ia anggap sebagai kurangnya transparansi.
“Kita semua yang duduk di sini berpikir demikian, dan semua orang di rumah juga akan berpikir, gol tersebut offside. FIFA adalah penyelenggara, mereka memiliki bukti dari keputusan otomatis itu, mengapa mereka tidak menunjukkannya kepada kita? Mereka melakukan ini pada turnamen lalu. Penggemar sudah telanjur tidak percaya. Ada tanda tanya besar dari [keputusan] itu karena itu offside sampai mereka membuktikan hal sebaliknya kepada saya. Ini seperti diktator dalam gagasan bahwa mereka menyimpan bukti ini dan tidak menunjukkannya kepada penggemar. Ini konyol. Buktikan kepada kita bahwa itu offside. Di mana transparansinya?” ujar Neville.
Mantan striker Inggris, Ian Wright, turut menyuarakan kekesalan serupa terkait sikap FIFA.
“Mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Kita melihatnya sekarang. Ini memalukan,” kata Wright.
Berdasarkan protokol FIFA, grafis offside semi-otomatis sebenarnya hanya akan ditayangkan di layar kaca apabila peninjauan VAR berujung pada pembatalan keputusan di lapangan. Karena keputusan penalti tetap disahkan, garis grafis tersebut tidak pernah diperlihatkan kepada lembaga penyiaran.
Di sisi lain, analis wasit ITV sekaligus wasit berlisensi FIFA, Christina Unkel, memberikan pembelaan. Ia menegaskan bahwa teknologi canggih di turnamen ini mampu membuat penilaian yang jauh lebih presisi dibandingkan mata manusia.
“Sistem ini tidak selalu memiliki batas toleransi yang tertanam di dalamnya. Namun, teknologi yang diterapkan pada Piala Dunia ini berada di tingkat yang lebih tinggi, sehingga akan menjadi lebih tajam dan jelas,” jelas Unkel.
Meski sempat memicu perdebatan sengit, laga Grup B yang digelar di San Francisco ini akhirnya berakhir imbang 1-1 setelah sundulan Boualem Khoukhi pada menit ke-94 berhasil menyelamatkan poin pertama bagi Qatar. (TNT Sport/Z-2)