KEPALA Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo mengapresiasi penyelenggaraan Bantul Innovation Award Tahun 2026 sebagai langkah nyata membangun budaya inovasi di daerah. Menurutnya, ajang tersebut tidak hanya menjadi wadah kompetisi, tetapi juga berperan penting dalam menumbuhkan semangat berinovasi sejak dini di berbagai lapisan masyarakat.
Lebih lanjut, Yusharto menilai, penguatan budaya inovasi harus dimulai dari lingkungan pendidikan hingga masyarakat. Menurutnya, semakin dini inovasi dikenalkan, semakin besar peluang lahirnya inovator yang mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan pembangunan daerah.
“Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul yang telah melaksanakan kegiatan ini. Kami akan terus mendorong kegiatan seperti ini karena menjadi bagian penting dari upaya membudayakan inovasi,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Penjurian Bantul Innovation Award Tahun 2026 yang berlangsung di Joglo Ageng Waroeng Omah Sawa, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat, 31 Juli 2026.
Dia berharap penyelenggaraan Bantul Innovation Award pada tahun mendatang dapat melibatkan lebih banyak kategori peserta, termasuk unit pelaksana teknis (UPT), sekolah, hingga kalangan pelajar. Menurutnya, pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan bahwa pelibatan generasi muda mampu memunculkan berbagai gagasan kreatif yang berpotensi menjadi inovasi bermanfaat.
Yusharto mencontohkan, dalam sejumlah forum inovasi tingkat provinsi, peserta berasal dari beragam kategori, bahkan melibatkan siswa sekolah menengah pertama yang telah mampu menghasilkan berbagai temuan sederhana namun memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya hadiri forum seperti ini di tingkat provinsi pesertanya itu 17 kategori, saking beragamnya dan karena mereka yang tahu persis kebutuhannya seperti apa, sampai dengan anak-anak SMP pun dilibatkan, ini bisa jadi cikal bakal anak-anak kita yang akan menjadi inovator ke depannya,” jelas Yusharto.
Selain membangun budaya inovasi, Yusharto juga mengingatkan, inovasi tidak selalu identik dengan digitalisasi. Berdasarkan data BSKDN, jumlah inovasi non-digital justru masih lebih banyak dibandingkan inovasi digital. Berbagai inovasi tersebut dinilai mampu memberikan dampak langsung terhadap pelayanan publik maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Ruang pengelolaan inovasi sangat luas. Inovasi non-digital justru banyak yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat sehingga peluang bagi para inovator di daerah terbuka sangat lebar,” tambahnya.
Melalui Bantul Innovation Award, Yusharto berharap semakin banyak inovasi daerah yang lahir, berkembang, serta dapat direplikasi oleh daerah lain sehingga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik secara berkelanjutan. (H-2)