PEMERINTAH Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, beserta beberapa anggota keluarga intinya dan anggota keluarga Castro. Langkah ini menjadi babak baru dari peningkatan tekanan Washington terhadap negara tetangganya yang dipimpin oleh pemerintah komunis tersebut.
Pihak-pihak yang menjadi target sanksi kali ini meliputi putra dan cucu dari mantan presiden Raul Castro, yang meskipun tidak lagi menjabat secara resmi, tetap menjadi pemegang kekuasaan penting di pulau tersebut. Selain itu, Presiden Miguel Diaz-Canel, istri, dan anak tirinya juga ikut terkena sanksi, bersama dengan Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner serta beberapa entitas lainnya.
Meskipun Kuba telah berada di bawah embargo perdagangan AS sejak 1962, Presiden Donald Trump secara drastis meningkatkan tekanan dalam beberapa bulan terakhir dengan memutus pasokan bahan bakar ke negara tersebut. Washington mengklaim bahwa rezim komunis Kuba mengancam keamanan warga Amerika. Trump bahkan berulang kali menyatakan bahwa Kuba bisa menjadi negara berikutnya yang jatuh.
“Kita akan mengurus Republik Islam Iran, dan segera setelah itu selesai, dalam perjalanan kembali, kita hanya akan melakukan persinggahan singkat,” ujar Trump, merujuk pada Kuba.
Menanggapi sanksi tersebut, Presiden Diaz-Canel melalui unggahannya di media sosial X menuduh Trump mencoba untuk “memperkuat blokade dan skenario konflik antara Kuba dan Amerika Serikat.” Ia menegaskan Kuba akan melawan “keagresifan dan kejahatan pemerintah Yankee” serta “serangan imperialis.”
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, juga mengecam sanksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang “keji” yang akan dihadapi dengan “persatuan dan tekad yang lebih besar dari rakyat kami.”
Di sisi lain, Trump menyatakan kepada para wartawan di Gedung Putih bahwa ia hanya ingin Kuba menjadi “negara yang dikelola dengan baik yang dapat memberi makan rakyatnya.”
“Tetapi negara itu kelaparan, tidak memiliki energi, tidak memiliki minyak, tidak memiliki uang, tidak memiliki apa-apa,” kata Trump. Namun, ia menambahkan bahwa Kuba memiliki “sebidang tanah yang indah” dan sempat merenung, “Anda bisa memiliki resor-resor yang indah.”
Embargo bahan bakar yang berlaku saat ini telah menyebabkan Kuba kehabisan solar untuk generator pembangkit listrik, yang mengakibatkan pemadaman listrik hingga 22 jam sehari dan kelangkaan air bersih. Dengan sektor transportasi yang hampir lumpuh total, pulau ini juga mengalami krisis pangan dan obat-obatan, sehingga sangat bergantung pada pengiriman bantuan dari Meksiko dan Tiongkok.
Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kuba memperingatkan bahwa darurat kemanusiaan ini, ditambah dengan datangnya musim badai Karibia, menciptakan “kondisi yang sangat berbahaya (explosive cocktail),” terlebih wilayah timur pulau tersebut masih dalam tahap pemulihan pasca-kerusakan besar akibat Badai Melissa. (AFP/Z-2)