BANYAK orang percaya bahwa mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis sudah cukup untuk terhindar dari diabetes. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes, dr Hamidah mengatakan diabetes tidak hanya dipicu kebiasaan mengonsumsi gula.
Menurut Hamidah, masih banyak masyarakat yang mengaitkan diabetes semata-mata dengan makanan manis. Padahal, penyakit ini berkaitan erat dengan cara tubuh mengelola glukosa sebagai sumber energi.
“Banyak orang mengira bahwa diabetes hanya berhubungan dengan hobi makan manis. Padahal ada hal yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana tubuh kita mengelola energi untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Hamidah dikutip dari penjelasannya dalam akun media sosial @pramitalab.id.
Ia menjelaskan bahwa tubuh memperoleh energi dari glukosa. Agar glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan sebagai sumber energi, tubuh memerlukan hormon insulin. Ketika produksi insulin terganggu atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, gula akan menumpuk di dalam aliran darah sehingga memicu diabetes.
“Energi diperoleh dari glukosa, di mana glukosa masuk ke dalam sel kemudian dijadikan sebagai sumber energi. Untuk memasukkan gula ke dalam sel, kita memerlukan insulin. Apabila insulin ini terganggu, maka akan terjadi penumpukan gula di dalam pembuluh darah kita,” jelasnya.
Bukan Hanya Pola Makan, Banyak Faktor Lain Memicu Diabetes
Hamidah menuturkan Diabetes Melitus terdiri atas empat jenis, yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes gestasional yang terjadi pada ibu hamil, serta diabetes yang disebabkan oleh kondisi tertentu.
Selain konsumsi gula, Hamidah menjelaskan ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes, yaitu:
- Memiliki riwayat keluarga atau faktor keturunan yang menderita diabetes.
- Berasal dari ras atau etnis tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes.
- Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
- Kurang melakukan aktivitas fisik atau jarang berolahraga.
- Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
- Memiliki kadar kolesterol yang tinggi.
- Pernah mengalami diabetes saat hamil (diabetes gestasional).
- Pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kilogram.
Artinya, seseorang tetap memiliki peluang terkena diabetes meski telah membatasi konsumsi makanan manis apabila masih memiliki faktor-faktor risiko tersebut.
Waspadai Gejala Awal Diabetes
Lebih lanjut, Hamidah menyebut diabetes sebagai silent killer karena pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Ia mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala yang dikenal sebagai 3P, yaitu polidipsi (sering haus), polifagi (sering atau cepat lapar), dan poliuri (sering buang air kecil, terutama pada malam hari).
“Diabetes Melitus sering disebut sebagai silent killer di mana pada awalnya tidak terasa. Waspadai adanya 3P yaitu Polidipsi: sering haus, Polifagi: cepat lapar, dan Poliuri: sering kencing terutama di malam hari. Apabila didapatkan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, waspada, itu alarm merah,” katanya.
Cara Pencegahan
Meski demikian, Hamidah menegaskan diabetes merupakan penyakit yang dapat dicegah maupun dikendalikan apabila masyarakat menerapkan pola hidup sehat sejak dini.
Ia menyarankan masyarakat menjalani pola makan bergizi seimbang, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, rutin beraktivitas fisik setidaknya 30 menit setiap hari, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala.
“Namun, ada kabar baiknya, di mana diabetes bisa dicegah dan dikendalikan. Kuncinya adalah pola makan seimbang, batasi gula, garam, dan lemak. Mulailah aktivitas bergerak minimal 30 menit sehari, dan yang paling penting adalah cek gula darah secara rutin. Mengetahui lebih awal adalah langkah terbaik untuk menyelamatkan masa depanmu,” tutur Hamidah. (Z-2)